Makin Mahal! Kurs Dolar Singapura Tembus Rp 10.600

  • Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (6/1), hingga menembus Rp 10.600/SG$. Hingga hari ini, Mata Uang Negeri Merlion menguat 3 hari beruntun.

Dolar Singapura pagi tadi sempat melesat 0,32% ke Rp 10.605,61/SG$ yang merupakan level tertinggi sejak 8 November lalu. Penguatan tersebut kemudian terpangkas, pada pukul 11:24 WIB berada di Rp 10.589,53/SG$.

Rupiah pada perdagangan hari ini mengalami tekanan setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) membuat kejutan di pasar finansial. Bank sentral AS atau biasa disebut The Fed dini hari tadi merilis notula rapat kebijakan moneter edisi Desember.

Dalam notula tersebut terlihat jika The Fed bisa menormalisasi kebijakan moneternya dengan lebih agresif lagi. Pasar saat ini sudah menakar kenaikan suku bunga sebanyak 3 kali, dan paling cepat terjadi di bulan Maret.

Tetapi, nyatanya The Fed bisa jauh lebih agresif dari itu. Dalam notula rapat kebijakan moneter bulan Desember terungkap, beberapa pejabat The Fed melihat nilai necara (balance sheet) bisa segera dikurangi setelah suku bunga dinaikkan.

“Peserta rapat kebijakan moneter secara umum mencatat bahwa, melihat outlook individual terhadap perekonomian, pasar tenaga kerja dan inflasi, mungkin diperlukan kenaikan suku bunga lebih awal atau dengan laju yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa peserta juga mencatat akan tepat jika segera mulai mengurangi nilai neraca setelah suku bunga dinaikkan,” tulis notula The Fed yang dikutip Reuters, Kamis (6/1).

Alhasil, imbal hasil (yield) obligasi AS atau yang disebut Treasury melesat naik.

Yield Treasury tenor 10 tahun melesat 5 basis poin ke 1,6999% yang merupakan level tertinggi sejak April 2021. Kemudian Treasury tenor 2 tahun yang sensitif dengan kenaikan suku bunga acuan, yield-nya naik 6,9 basis poin ke 0,8296% yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2020.

Kenaikan tersebut berisiko memicu capital outflow dari negara emerging market seperti Indonesia, yang membuat rupiah tertekan.

Di sisi lain, dolar Singapura sedang kuat pasca rilis data ekonomi pekan ini. Data yang dirilis dari Singapura kemarin menunjukkan sektor manufaktur kembali meningkatkan ekspansi di bulan Desember lalu. Hal ini membuktikan, meski virus Omicron menyerang, tetapi tidak memberikan dampak yang signifikan ke perekonomian.

IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang dilihat dari purchasing managers’ index (PMI) naik menjadi 55,1 dari bulan sebelumnya 52.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya berarti kontraksi di atasnya ekspansi.

Angka indeks pada bulan lalu merupakan yang tertinggi sejak Julo 2021, dan sudah 13 bulan beruntun mencatat ekspansi.

Sementara di awal pekan ini Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura melaporkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV-2021 dilaporkan tumbuh sekitar 5,9% year-on-year (yoy).

Mengutip CNBC International, angka ini di atas perkiraan para analis yang memprediksi pertumbuhan 5,4%.

“Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,9% pada Oktober-Desember pada basis tahun-ke-tahun,” ujar lembaga resmi itu. Secara kuartalan, ekonomi negara itu tumbuh hingga 2,6%.

Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2021, ekonomi Singapura tumbuh 7,2%. Pertumbuhan ini merupakan kenaikan tercepat sejak tahun 2010.

Kuatnya pertumbuhan ekonomi tahun lalu, dan masih berlanjut di awal tahun ini terlihat dari data PMI membuat otoritas moneter Singapura (MAS) semakin kuat diperkirakan akan mengetatkan kebijakan moneternya di bulan April, apalagi inflasi di Singapura sedang tinggi.

“Kami memperkirakan kebijakan moneter dan fiskal akan diketatkan lebih lanjut di tahun ini,” kata Sung Eun Jung dari Oxford Economics, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (4/1).

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)



  • Share