Duh! Rupiah Bakal Melemah Lagi, Bisa Tembus Rp 14.400/US$

  • Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah mencatat pelemahan 3 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga Rabu kemarin. Dengan demikian, sepanjang 2022, Mata Uang Garuda belum mampu mencatat penguatan.

Dari dalam negeri, kebijakan pemerintah Republik Indonesia (RI) melarang ekspor batu bara selama satu bulan dapat membebani neraca dagang.

Tingginya harga batu bara menjadi salah satu pemicu neraca dagang mampu mencatat surplus selama 19 bulan beruntun.

Surplus tersebut akan membantu transaksi berjalan (current account) Indonesia agar tidak mengalami defisit yang besar bahkan bisa mencatat surplus.
Defisit transaksi berjalan yang tidak besar atau jika bisa surplus akan memberikan dampak positif ke rupiah.

Ketika ekspor batu bara dilarang, surplus tentunya akan menyempit, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali defisit. Sebab Penjualan batu bara ke luar negeri tersebut rata-rata tiap bulan ditaksir bernilai US$ 1,4 – 1,7 miliar atau senilai Rp 20 – 24 triliun (kurs Rp 14.350/US$).

Sementara dari eksternal, kenaikan tajam yield obligasi AS (Treasury) yang memicu kenaikan indeks dolar AS membuat rupiah terpukul. Kabar buruknya yield Treasury AS kemarin kembali naik, yang berisiko membuat rupiah kembali merosot pada perdagangan Kamis (6/1).

Penyebabnya, notula rapat kebijakan moneter The Fed yang menunjukkan normalisasi kebijakan moneter bisa lebih agresif di tahun ini.

Secara teknikal, tekanan bagi rupiah kini semakin besar setelah bergerak di atas rerata pergerakan 200 hari (Moving Average 200/ MA 200). Artinya rupiah yang disimbolkan USD/IDR saat ini berada di atas 3 MA.

Risiko pelemahan rupiah yang cukup besar juga terlihat dari indikator Stochastic yang bergerak naik tetapi belum mencapai wilayah jenuh beli (overbought).




idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian 
Foto: Refintiv 

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Selama tertahan di atas MA 200 di kisaran Rp 14.330 sampai Rp 14.340/US$, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.380 hingga Rp 14.400/US$.

Sementara jika kembali ke bawah MA 200, ada peluang penguatan ke Rp 14.300/US$, sebelum menuju MA 100 dan MA 50.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)



  • Share