Duit Triliunan Mengalir ke RI, Rupiah Siap Cetak Hat-trick!

  • Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah sukses mencatat penguatan dalam dua hari terakhir melawan dolar Amerika Serikat (AS) Rabu kemarin. Bahkan, rupiah tidak pernah mencicipi zona merah dalam dua hari perdagangan tersebut, meski penguatannya juga tidak terlalu besar.

Kemarin, rupiah menguat 0,24% ke Rp 14.355/US$, sementara hari sebelumnya 0,03% saja.

Peluang rupiah mencatat hat-trick alias penguatan 3 hari beruntun pada hari ini, Kamis (10/2) juga cukup besar, melihat indeks dolar AS yang kembali turun pada perdagangan Rabu.

Aliran modal yang deras masuk ke dalam negeri menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Sepanjang bulan Januari lalu, terjadi capital outflow yang cukup besar di pasar obligasi Indonesia. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan kepemilikan asing di SBN pada 31 Januari sebesar Rp 887,28 triliun, turun dibandingkan 31 Desember 2021 sebesar Rp 891,34 triliun. Artinya, terjadi capital outflow sekitar Rp 4 triliun.

Tetapi situasi tersebut berubah, pada 7 Februari lalu kepemilikan asing tercatat sebesar Rp 895,74 triliun, artinya terjadi inflow sebesar Rp 8,46 triliun hanya dalam 7 hari saja di bulan ini.

Dengan demikian, secara year-to-date (ytd) hingga 7 Februari lalu, tercatat capital inflow di pasar obligasi sebesar Rp 4,4 triliun.

Di pasar saham juga terjadi hal yang sama. Kemarin investor asing tercatat melakukan beli bersih (net buy) nyaris Rp 1,4 triliun di pasar reguler. Kemudian selama sepekan terakhir net buy tercatat lebih dari Rp 5,8 triliun.

Pergerakan rupiah pada hari ini juga akan dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Gubernur Perry Warjiyo dan sejawat menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Februari 2022 pada 9-10 Februari 2022. Konsensus pasar yang dihimpun OtoMobile.id memperkirakan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate tetap bertahan di 3,5%. Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus sepakat bulat, tidak ada yang berbeda pendapat.

Jika terwujud, maka suku bunga acuan akan genap setahun berada di 3,5%, tidak pernah berubah. Sejak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) menyerang Tanah Air, BI sudah memotong suku bunga acuan sebanyak 150 basis poin (bps).

Meski demikian, pelaku pasar akan melihat sinyal kapan BI akan menaikkan suku bunga. Sebab, inflasi di dalam negeri kini sudah ke atas 2%, dan bank sentral AS (The Fed) yang akan agresif dalam menaikkan suku bunga di tahun ini.

Secara teknikal, meski sudah menguat dua hari beruntun, tekanan bagi rupiah yang disimbolkan USD/IDR masih besar dan patut waspada sebab sudah muncul Golden Cross, yakni perpotongan antara rerata pergerakan 50 hari (Moving Average 500/ MA 50), dengan MA 500 dari bawah ke atas. MA 50 sebelumnya juga sudah memotong MA 100.

Golden Cross bisa menjadi sinyal berlanjutnya kenaikan USD/IDR yang berarti pelemahan rupiah. Dengan kata lain, Golden Cross yang muncul merupakan Death Cross bagi rupiah.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian akhirnya keluar dari wilayah jenuh beli (overbought).




idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv 

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Ketika Stochastic masuk overbought, hal tersebut sebenarnya memberikan peluang rupiah untuk bangkit, dan akhirnya terjadi dalam dua hari terakhir.

Untuk lepas dari tekanan, rupiah perlu melewati MA 200 ke Rp 14.335/US$ hingga Rp 14.325/US$.

Sementara selama tertahan di atas MAS 200, rupiah berisiko melemah ke kisaran Rp 14.390/US$ hingga Rp 14.400/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)



  • Share