Jejak Freeport di RI: Ditolak Sukarno, Disayang Soeharto

  • Share

Jakarta, OtoMobile.idIzin ekspor konsentrat tembaga oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) akan berakhir dalam hitungan hari atau tepatnya 15 Maret 2022 ini. Tahun lalu, Freeport kantongi izin ekspor konsentrat sebanyak 2 juta ton.

Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Riza Pratama membenarkan bahwa izin ekspor konsentrat tembaga perusahaan akan berakhir dalam waktu dekat ini. Belum diketahui apakah izin itu akan berlanjut atau tidak.

Bicara soal Freeport, maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjangnya dalam pertambangan di tanah air. Sebuah laporan dari Antonie Hendrikus Colijn, Jean Jacques Dozy dan Frits Julius Wissel pada 1936, menarik perhatian Forbes Wilson, geolog Freeport, pada 1959 dan 1960 dia berangkat ke Papua.

Pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, sebuah gundukan tanah terhampar luas bijih tembaga. Dia membawa sampel pulang untuk diteliti dan para analis Freeport memperkirakan betapa besarnya kekayaan alam di sekitar gundukan itu.

Usaha Freeport mendapatkan izin Sukarno sebelum 1965, tidak mulus. Beruntunglah Freeport karena Sukarno melemah pada 1966 dan jatuh pada 1967. Letnan Jenderal Soeharto kemudian menggantikan Sukarno.

Sebelum Jenderal Soeharto berkuasa sebelum menjadi pejabat Presiden RI, telah keluar Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal. UU itu rupanya telah disahkan sejak 10 Januari 1967.

Setelah Soeharto menjadi pejabat presiden, sejak Maret 1967, kontrak karya telah diberikan kepada Freeport selama 30 tahun. Kontrak karya itu ditandatangani pada 7 April 1967, tiga pekan setelah Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden.

“Freeport adalah perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak dengan rezim baru di Jakarta dan menjadi aktor ekonomi dan politik utama di Indonesia,” tulis Denise Leith dalam Politics of Power: Freeport in Suharto’s Indonesia (2003). Setelah Freeport Inco mendapatkan izin penambangan nikel di Saroako pada 1967.

Setelah izin keluar, Freeport membangun instalasi tambangnya di Papua, yang setelah 1972 sudah siap. Ratih Poeradisastra dan Bambang Haryanto dalam Soetaryo Sigit Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia (2016:248) menyebut kontrak karya pertama itu awalnya menguntungkan investor saja. Kemudian peninjauan terus diadakan.

Presiden Soeharto pada 3 Maret 1973 telah meresmikan pertambangan tembaga, yang merupakan penanaman modal asing pertama di era orde baru itu. Pertambangan itu melahirkan kota pemukiman penambang bernama Tembagapura.

Mulanya pertambangan diusahakan Freeport Sulphur Company, yang merupakan bagian dari Freeport McMoran Copper and Gold Amerika Serikat. Kemudian perusahaan itu berubah menjadi PT Freeport Indonesia,

Freeport Indonesia pun ibarat gula yang dikerubungi semut. Para semut itu tak lain para pejabat pusat yang menginginkan bagian. Setelah 30 tahun kontrak karya yang dulu direstui presiden daripada Soeharto berlalu. Kontrak Freeport terus diperpanjang di Papua sampai dengan saat ini.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

[Gambas:Video CNBC]

(pmt/pmt)


  • Share