Kisah Haji Samanhudi, Juragan Batik Pendiri Sarekat Islam

  • Share

Jakarta, OtoMobile.idSangat sedikit orang Jawa yang berdagang di zaman kolonial Hindia Belanda. Namun, sedikit demi sedikit, beberapa keluarga pedagang Islam bermunculan di Jawa. Islam sendiri masuk dan berkembang di Pulau Jawa juga melalui jalur perdagangan.

Di antara para pedagang Islam yang sohor di awal abad 20 itu antara lain Haji Ahmad Dahlan yang akhirnya mendirikan Muhammadiyah dan Haji Samanhudi. Keluarga Samanhudi, setidaknya sudah berdagang sejak generasi sang kakek. Samanhudi dan saudara-saudaranya berdagang di beberapa kota di Jawa. Mereka berdagang batik.

Samanhudi, menurut Muljono dan Sutrisno Kutoyo dalam Haji Samanhudi (1984:31), sebelum aktif berdagang, pernah belajar di sekolah berbahasa Belanda macam Eerste Inlandsche School dan mengaji. Setelah lulus mengaji, dia belajar agama Islam pada Kiai Djodjermo.

Samanhudi lahir besar di Laweyan, yang punya reputasi sebagai kampung batik. Samanhudi yang lahir pada 1868 ini kawin muda. Pada usia 20 tahun, dia menikahi Suginah binti Kiai Badjuri. Setelah menikah, dia memakai nama Wirjowikoro. Setelahnya, Samanhudi menikah lagi dengan Marbingah.

Sebagai orang Islam yang mampu, pada tahun 1904, Samanhudi naik haji ke Makkah. Dia makin terpandang setelah pergi haji. Bisnis Samanhudi sebetulnya tergolong maju. Menurut Muljono dan Sutrisno Kutoyo, pegawainya mencapai ratusan orang.

Pendapatan dari bisnis Samanhudi tiap harinya bisa mencapai 800 gulden. Sementara itu gaji seorang bupati tiap bulannya hanya 1.000 gulden saja. Artinya Samanhudi termasuk pedagang kaya di Jawa di zamannya.

Bisnisnya Haji Samanhudi tidak hanya di Solo tapi juga mencapai Bandung, Purwokerto, Surabaya dan Banyuwangi.

“Barangkali (Samanhudi) satu-satunya pedagang Laweyan yang sanggup membuka toko sejauh itu,” tulis Kuntowijoyo dalam Petani, Priyayi dan Mitos Politik (2017:147). Boedi Oetomo masuk Laweyan juga karena Samanhudi.

Samanhudi pernah ikut serta dalam organisasi pedagang batik bernama Kong Sing. Samanhudi lalu merasa kecewa dengan Kong Sing yang membiarkan beberapa pedagang Tionghoa memonopoli bahan batik.

Lalu, timbul usaha dari pengusaha batik di kota Surakarta untuk mengadakan persatuan demi melawan taktik dagang pedagang Cina. Usaha tersebut dipelopori oleh Haji Samanhudi di Kampung Laweyan di Kota Surakarta,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan Jilid 1 (2008:121).

Organisasi rahasia untuk melawan Kong Sing bernama Rekso Rumekso berdiri. Awalnya, seperti disebut Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (2002:195) Rekso Rumekso masih bersifat rahasia yang siap tawuran. Parakirti Simbolon dalam Menjadi Indonesia (2006:260-261) mulanya Rekso Rumekso semacam organisasi jaga malam.

Tawuran Rekso Rumekso vs Kong Sing membuat polisi turun tangan. Samanhudi dan organisasinya lalu membuka diri untuk tampil resmi. Setelahnya Sarekat Dagang Islam (SDI) muncul. Belakangan organisasi ini menjadi Sarekat Islam (SI), yang anggotanya tidak lagi pedagang. Samanhudi sempat memimpin, sebelum digantikan HOS Tjokroaminoto. SI adalah lawan politik penting yang legal bagi pemerintah kolonial.

Samanhudi terus hidup menjadi pedagang juga. Sebelum tutup usia pada 28 Desember 1956, pada 1955, Haji Samanhudi mengaku kepada Tamar Djaja dalam Majalah Daulah Islamiyah No.1, Januari 1957 terbitan Jakarta, SDI lahir pada 16 Oktober 1905. Di masa-masa tawuran antara Kong Sing dengan Rekso Rumekso masih tawuran.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

(pmt/pmt)



  • Share