Malaysia Tak Akan Terapkan Lockdown Ekonomi Jika Corona Melonjak, Perbatasan Diusulkan Buka 1 Maret

  • Share

OtoMobile.id
Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia (Miti) memastikan tidak akan lockdown total di sektor ekonomi dan industri apabila kasus COVID-19 di Negeri Jiran mengalami peningkatan secara signifikan. Menurut Menteri Senior Datuk Seri Mohamed Azmin Ali, penutupan sektor ekonomi yang dilakukan sebelumnya telah berdampak besar pada perekonomian, terutama pada masyarakat Malaysia.

Kebijakan itu disebut telah menyebabkan sebanyak 826 ribu orang kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan pertama lockdown total Malaysia di tahun 2020 lalu. Oleh sebab itu, Azmin menyebut Malaysia tidak bisa kembali menerapkan lockdown total di sektor ekonomi.

“Saat seseorang kehilangan pekerjaannya, itu melibatkan satu keluarga dan satu keluarga mungkin terdiri dari empat atau lima orang. Dan jika lockdown (total) berlanjut, itu akan membuat sekitar 5 juta orang Malaysia tanpa penghasilan,” paparnya. “Kita tidak bisa melakukannya lagi (lockdown total) ya, kita perlu mengelola pandemi ini secara efektif, kita akan melakukan yang terbaik untuk masalah kesehatan tetapi ‘kesehatan ekonomi’ juga penting. Dan sekarang kita lakukan secara berimbang jika tiba-tiba ada lonjakan (COVID-19).”

Lebih lanjut, Azmin menjelaskan bahwa Miti akan mengambil pendekatan lain dengan hanya menutup industri yang terkena dampak COVID-19. Malaysia juga akan berfokus untuk mempercepat program vaksinasi COVID-19 di kalangan karyawan dengan Program Imunisasi Industri Kemitraan Pemerintah-Swasta (Pikas) COVID-19 agar industri tidak harus ditutup. Mengingat pekerja di sektor industri dan manufaktur lebih berisiko dibanding sektor lain yang masih bekerja dengan opsi work from home.

“Jika industri tutup, ekonomi negara akan terus terus berkontraksi. Melalui Pikas, kami telah berhasil memvaksinasi 2 juta orang,” ungkapnya.

Di sisi lain, Dewan Pemulihan Nasional Malaysia (NRC) telah mengusulkan pembukaan total perbatasan negara itu pada 1 Maret mendatang tanpa perlu karantina wajib. Meski demikian Ketua Badan Penasihat Pemerintah, Muhyiddin Yassin, mengatakan para pelaku perjalanan harus menjalani tes COVID-19 sebelum keberangkatan dan setibanya di Malaysia, sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan.

“Pembukaan kembali perbatasan internasional perlu dilaksanakan secara terencana dan berdasarkan penilaian risiko saat ini,” ujar Yassin pada Selasa (8/2).

Lebih lanjut, Yassin menyebut bahwa pembukaan kembali perbatasan Malaysia akan mendukung proses pemulihan ekonomi dan industri yang terkait dengan pariwisata di negara tersebut. Yassin bahkan menyebut bahwa pembukaan perbatasan Malaysia ini akan berlaku untuk semua negara.

“Dengan begitu, proses pemulihan negara akan dipercepat, di mana investor bisa datang, turis internasional bisa berkunjung dan selanjutnya menghidupkan kembali industri pariwisata dan penerbangan kita,” jelasnya.

(wk/Bert)

  • Share