Talenta dan Transformasi Digital UMKM

  • Share

MUNCULNYA globalisasi, revolusi industri 4.0, digitalisasi ekonomi dan pandemi covid-19 memberi tantangan yang tidak ringan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Krisis karena pandemi covid-19 selama dua tahun terakhir telah memaksa semua bisnis mempercepat proses digitalisasi. Pada titik ini, terlihat UMKM belum sepenuhnya siap dalam melakukan transformasi digital. Berdasarkan survei yang dilakukan Kata Data terhadap 206 UMKM di Jabodetabek 2020, Indeks Kesiapan Digital dari UMKM rata-rata di angka 3,6 atau masih ditahap menengah.

Tantangan terbesar UMKM dalam melakukan transformasi adalah, kurangnya talenta digital yang bersedia hidup dan berkembang besama UMKM. Padahal, kehadiran talenta digital sangat vital untuk bisa memanfaatkan peluang pasar yang tercipta di era industri 4.0, sekaligus keluar dari himpitan persaingan yang semakin ketat.

Secara umum, ekosisistem ekonomi digital Indonesia juga masih perlu perbaikan. Peringkat Digital Competitiveness Index (DCI) Indonesia tahun 2020 di posisi 56 dari 63 negara. DCI mengukur kemampuan, kapasitas, dan kesiapan negara dalam mengadopsi dan mengeksplorasi teknologi digital untuk transformasi sosial ekonomi. Rendahnya daya saing digital menyebabkan UMKM semakin terancam ketika pesaing global memenuhi pasar domestik.


Transformasi digital

Saat ini sudah tidak memungkinkan lagi bagi suatu bisnis untuk menghindar dari digitalisasi. Dengan revolusi industri 4.0, teknologi digital bukan lagi sekadar menjadi fungsi pendukung, tapi harus menjadi bagian dari inovasi perusahaan (Remane et al, 2017). Oleh karena itu, transformasi digital menjadi keniscayaan guna meningkatkan daya saing dan keberlanjutan UMKM.

Di antara faktor sukses dalam transformasi digital ialah tersedianya infrastrutktur digital yang memadai. Hal ini tidak hanya menyangkut kesiapan perusahaan dalam mengadopsi teknologi digital, tetapi juga kesiapan pemerintah dalam menyediakan akses internet yang cukup pada UMKM. Kenyataannya, infrastruktur digital di Indonesia sampai saat ini masih belum sepenuhnya memadai.

Survei Literasi Digital Indonesia 2O2O di 34 provinsi oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi menyebutkan bahwa kendala terbesar dalam akses internet (76,9%) ialah jaringan yang tidak stabil sehingga koneksi sering terputus. Selain itu, sebanyak 53,7% responden mengaku jaringan internet tidak selalu ada di daerahnya. Hal ini jelas akan menghambat proses transformasi karena ketersediaan jaringan adalah prasyarat dasar dalam transformasi digital.


Talenta digital

Percepatan transformasi membutuhkan teknologi baru untuk meningkatkan produktifitas. Akan tetapi, keberhasilan dalam proses adopsi teknologi sangat tergantung pada ketersediaan talenta digital di UMKM sendiri. Talenta digital ialah pekerja terlatih yang memiliki kompetensi digital yang dapat diterapkan dalam industri (Leifels, 2020). Langkanya talenta digital akan menyulitkan proses transformasi digital pada UMKM.

Disrupsi teknologi pada industri 4.0 telah memunculkan permintaan atas talenta digital yang tinggi. Perusahaan semakin menyadari bahwa keberadaan talenta digital berimplikasi pada keberlanjutan bisnis sehingga perusahaan berusaha memperoleh talenta digital baik dari sumber internal dengan cara melatih pegawai yang ada atau eksternal dengan melakukan talent acquisition.

Tingginya permintaan menyebabkan standar gaji talenta digital menjadi tinggi. Sementara itu, terbatasnya keuangan UMKM  tidak  memungkinkan  mereka membayar talenta digital dengan gaji yang cukup sehingga sangat sulit bagi UMKM untuk mengakuisisi talenta digital meski hanya mereka yang baru lulus kuliah. Lalu, apa yang harus dilakukan agar transformasi digital UMKM bisa berjalan sehingga daya saing mereka meningkat?


Alternatif solusi

UMKM memiliki peran signifikan dalam perekonomian nasional. Peran ini belum diimbangi dengan kemampuan internal UMKM untuk melakukan transformasi digital. Oleh karena itu, UMKM jangan dibiarkan berjuang sendiri. Dukungan pemangku kepentingan seperti pemerintah, universitas dan perusahaan besar diperlukan untuk membantu transformasi digital UMKM.

Paling tidak, ada tiga hal yang dapat dilakukan. pertama penyediaan talenta digital bersama. Pemerintah bisa menyiapkan digital talent pool, yakni talenta digital dapat dimanfaatkan bersama oleh UMKM dalam suatu klaster. UMKM dalam klaster yang sama, tentu memiliki kebutuhan digitalisai yang mirip. Penggunaan talenta digital bersama akan lebih efisien dibanding bila setiap UMKM harus memiliki talenta digital sendiri-sendiri.

Kedua, asistensi perusahaan besar. Talenta digital yang dimiliki oleh perusahaan besar dapat diperbantukan pada UMKM sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR). Mereka dapat memberikan asistensi dalam proses transformasi, baik dengan melatih sumber daya yang ada di UMKM ataupun membantu menyiapkan infrastuktur digital yang dibutuhkan. Biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam proses asistensi ini tidaklah seberapa dibanding manfaat yang dihasilkan dari suksesnya digitalisasi UMKM kelak.

Ketiga, mahasiswa magang. Universitas memiliki banyak sumber daya digital, khususnya yang memiliki program ilmu komputer dan teknologi digital. Mahasiswa merupakan talenta digital potensial yang dapat dilibatkan dalam transformasi digital UMKM melalui program magang.

Magang di perusahaan besar tentu bermanfaat untuk memahami sistem bisnis yang mapan. Namun, magang di UMKM akan jauh lebih bermanfaat lagi. Magang di UMKM memberi pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam menyelesaikan masalah. Selain itu dengan magang di UMKM, talenta digital kampus telah secara langsung membantu UMKM lebih berdaya saing sehingga semakin berperan dalam penguatan ekonomi nasional.

Talenta digital memang masih terbilang langka, khususnya bagi UMKM. Namun, bukan berarti UMKM harus berhenti melakukan transformasi dan akhirnya mati. Dengan ketiga hal di atas, diharapkan UMKM bisa melakukan transformasi digital dengan baik. Kesediaan pemerintah, universitas, dan perusahaan besar dalam membantu tranformasi digital UMKM akan sangat bermanfaat, dalam memajukan perekonomian nasional melalui UMKM yang berdaya saing.


  • Share