Kok RI Terus-Terusan Impor Gula dan Garam? Begini Faktanya

  • Share

Jakarta, OtoMobile.id – Keputusan pemerintah yang tetap mengizinkan impor gula dan garam mendapat pertanyaan besar dari wakil rakyat di Senayan. Komisi VII DPR RI mempertanyakan keputusan impor itu karena stok dalam negeri dirasa cukup.

Namun, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengungkapkan bahwa keputusannya untuk memberi izin impor 3,4 juta ton gula rafinasi dan jutaan ton garam bukan tanpa sebab, melainkan karena kebutuhan industri.

“Gula rafinasi harus 80 (minimal icumsa atau kejernihan gula), kalau nggak maka nggak bisa dipakai. (Garam juga) Pernah ada kejadian produk makanan minuman kita waktu diekspor ke Taiwan itu d-ireject oleh Taiwan besar-besaran, itu jadi skandal lah karena ketika kita telusuri, garam yang dipakai kurang dari 97% NaCL (Natrium Klorida), rusak semua produknya,” kata Agus dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (2/2/22).

“Memang masalah klasik, industri manufaktur butuh bahan baku. UU CK memastikan bahwa bahan baku industri sektor apapun wajib hukumnya untuk bisa dipenuhi,” lanjutnya.

Gula rafinasi yang tiba di Indonesia tetap melalui proses lebih lanjut melalui 11 perusahaan atau pabrik yang mendapat izin. Jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun. Padahal, beberapa tahun yang lalu jumlah perusahaan yang mendapat izin hanya sedikit.

“Kronologi awal ada tiga perusahaan yang diberi importasi, 2005 jadi 8 perusahaan, ada tambahan-tambahan baru. Rata-rata pabrik rafinasi utilisasi 75%, maksimal kapasitas 5 juta jadi masih ada space, kalau didorong 95% sehingga efisien nggak perlu memberi izin perusahaan baru untuk rafinasi,” jelasnya.

Persoalan klasik adalah industri di dalam negeri belum mampu, atau bila mampu belum banyak memenuhi spesifikasi standar untuk kebutuhan industri.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)


  • Share