BPOM Beri Izin Penggunaan Darurat Sinopharm sebagai Vaksin Booster untuk Usia 18 Tahun ke Atas

  • Share

OtoMobile.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) Sinopharm sebagai vaksin dosis lanjutan atau booster.

Artinya, Sinopharm resmi menjadi vaksin Covid-19 keenam yang telah mengantongi izin BPOM jadi vaksin booster.

Vaksin bernama SARS-Cov-2 Vaccine (Vero Cell), Inactivated, produksi Beijing Bio-Institute Biological, China ini telah didaftarkan PT Kimia Farma untuk penggunaan booster homolog usia dewasa 18 tahun atau lebih.

Nantinya, orang yang akan disuntik vaksin Sinopharm harus sudah mendapatkan dosis primer lengkap sekurang-kurangnya enam bulan.

“Sesuai persyaratan penggunaan darurat, Badan POM telah melakukan evaluasi terhadap aspek khasiat dan keamanan mengacu pada standar evaluasi vaksin COVID-19 untuk vaksin Sinopharm sebagai dosis booster homolog untuk dewasa 18 tahun ke atas,” kata Kepala Badan POM, Penny K. Lukito.

Baca juga: BioNTech-Pfizer Minta Persetujuan Vaksin COVID-19 untuk Balita

Dikutip dari Pom.go.id, untuk frekuensi, jenis, dan keparahan reaksi sampingan atau kejadian yang tidak diharapkan (KTD) setelah pemberian booster lebih rendah dibandingkan saat pemberian dosis primer.

Adapun KTD yang sering terjadi merupakan reaksi lokal, seperti nyeri di tempat suntikan, pembengkakan, dan kemerahan.

Kemudian, reaksi sistemik seperti sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot dengan tingkat keparahan grade 1-2.

Sejumlah warga negara asing (WNA) atau ekspatriat menjalani vaksinasi Covid-19 di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (24/8/2021). Sebanyak 300 WNA pemegang Kitas mendapatkan vaksin Covid-19 Sinopharm dengan biaya Rp 700.000 per orang untuk 2 kali suntik.
Sejumlah warga negara asing (WNA) atau ekspatriat menjalani vaksinasi Covid-19 di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (24/8/2021). Sebanyak 300 WNA pemegang Kitas mendapatkan vaksin Covid-19 Sinopharm dengan biaya Rp 700.000 per orang untuk 2 kali suntik. (Tribunnews/Jeprima)

Berdasarkan aspek Imunogenisitas, peningkatan respon imun humoral untuk parameter pengukuran antibodi netralisasi dan anti IgG masing-masing sebesar 8,4 kali dan 8 kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster.

Selanjutnya, respons imun setelah pemberian booster ini lebih tinggi dibandingkan respons imun yang dihasilkan pada saat vaksinasi primer.

  • Share