Jurnalis yang Hamil Minta Tolong ke Taliban Akhirnya Bisa Pulang ke Selandia Baru

  • Share

OtoMobile.id
Seorang jurnalis asal Selandia Baru Charlotte Bellis baru-baru ini mengungkapkan keluhannya terkait kebijakan COVID-19 negaranya yang membuatnya tak bisa kembali ke sana. Ia pun harus meminta bantuan kepada Taliban dan kembali ke Kabul lantaran izin masuknya ditolak oleh pemerintah Selandia Baru.

Adapun Bellis dalam kondisi hamil. Namun gayung bersambut ketika pada Selasa (2/1), pemerintah Selandia Baru mengatakan bahwa ia bisa kembali ke sana. Sebelumnya, para pejabat bersikeras bahwa Bellis perlu mengajukan permohonan kembali untuk mendapatkan tempat di hotel karantina di negara itu.

Wakil Perdana Menteri Grant Robertson mengatakan Bellis telah ditawari voucher untuk sebuah kamar. Melalui sebuah pernyataan, Bellis mengaku sangat senang. Ia diperkirakan akan melahirkan anaknya pada awal Maret mendatang.

“Saya akan kembali ke negara asal saya Selandia Baru pada awal Maret untuk melahirkan bayi perempuan kami,” kata Bellis. “Kami sangat bersemangat untuk kembali ke rumah dan dikelilingi oleh keluarga dan teman di waktu yang spesial.”

Kasus Bellis menjadi perhatian banyak media berita yang tentu saja merupakan hal yang memalukan bagi Selandia Baru ketika ribuan warganya menunggu di luar negeri untuk membuka ruang di hotel karantina perbatasan yang dikelola militer. Lebih jauh, Bellis menyatakan rasa terima kasihnya kepada warga Selandia Baru atas dukungan mereka.

Ia akan terus menyuarakan ketidaksetujuannya kepada pemerintah untuk menemukan solusi atas kontrol perbatasannya. Ia juga kecewa dengan keputusan itu karena hanya dilakukan sekali. Sebab menurutnya, masih ada banyak wanita Selandia Baru di luar sana yang hamil dan menunggu untuk pulang ke kampung halaman mereka.

Kepala sistem karantina Selandia Baru Chris Bunny mengatakan tawaran baru itu dibuat untuk Bellis karena Afghanistan dianggap sangat berbahaya. Kemampuan pemerintah terbatas untuk membantu orang-orang di lapangan, terutama setelah penarikan pasukan AS tahun lalu. Lebih jauh, Bunny mengatakan publisitas seputar kasus itu bukanlah faktor penentu. Keputusan pemerintah yang akhirnya memberi izin masuk Bellis adalah atas dasar pertimbangan keselamatan.

(wk/zodi)

  • Share