Sufi’ah : Pengalaman Sulitnya Akses Pendidikan

  • Share

BERANGKAT dari pengalaman sendiri berjuang untuk anak difabel juga dilalui Sufi’ah. Pada 2008, ia dikarunai anak kembar yang berkebutuhan khusus.

Anak kembar yang lahir prematur di usia 6 bulan itu salah satunya hanya bertahan hingga usia enam bulan. Anak yang lainnya yang diberi nama Heri Purnomo dapat bertahan, tapi mengalami perdarahan kornea mata hingga menjadi tunanetra.

Sufi’ah mengaku mentalnya semakin diuji karena tidak jarang ada orang yang menggunjingkan kondisi anaknya. “Saat membawa anak keluar rumah, omongan orang lain seperti,’Kasihan ya mba, nanti jadi apa besarnya’ membuat saya makin sedih sampai menangis,” tutur Sufi’ah saat menjadi bintang tamu episode Cinta yang Menyembuhkan.

Saat Heri menginjak usia 6 tahun, Sufi’ah juga kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Demi memastikan pendidikan sang anak, Sufi’ah memilih berhenti bekerja sebagai guru SD, begitu pula sang suami berhenti dari pekerjaan sebagai sekuriti dan membuat usaha kopi. Mereka pulang kampung ke Gresik, Jawa Timur, untuk fokus mengurus Heri sembari membuka usaha kopi.

Di kampungnya, Sufi’ah melihat banyak pula anak penderita cerebral palsy dan autisme di wilayah itu yang tidak mendapat akses pendidikan, ia pun bertekad mendirikan yayasan. Pada 2018 Sufiah dapat mendirikan Yayasan Al Ikhlas, dengan bentuk kegiatan pertama berupa sanggar di Madumulyorejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.

Nama yayasan itu mencerminkan pula pelajaran hidup yang didapat Sufi’ah sebagai ibu dari anak berkebutuhan khusus (ABK). Meski merupakan ABK, Heri juga terbukti memiliki kemampuan menjadi hafiz Alquran.

“Dia (Heri) tidak pernah menyerah dengan keadaannya, dia mengajari saya dari kecil untuk ikhlas, dia ngajari saya untuk sabar. ‘Bunda itu harus sabar,’ dia bilang begitu. Kita sering ikutkan dia tahfiz, dari salah satu hadiahnya (di tahfiz) untuk kita bikin sekolah ini,” paparnya. Di usia 13 tahun ini, Heri sudah menghafal 18 juz.

Pada awalnya, yayasan sanggar itu hanya diikuti orang anak yang itu pun dijaring dengan cara jemput bola. Sufi’ah yang kemudian bekerja sebagai guru di sekolah swasta, begitu gigih mengajak para orangtua dari ABK untuk mengikuti kegiatan yayasannya agar sang anak bisa mendapat terapi dan pikiran orangtua pun terbuka akan upaya perbaikan hidup anak difabel.

Pada 6 Januari 2022, Yayasan Al Ikhlas baru meresmikan TK dan SD bagi anak difabel. Bangunan sekolah dengan empat ruangan kelas memang masih terus dibangun, tapi mereka sudah bisa melayani 200 peserta didik dengan berbagai macam kondisi disabilitas.

Pendidikan diberikan gratis, sedangkan untuk biaya terapi yang dilakukan setiap seminggu sekali dibiayai dengan sumbangan donatur. Di sana para ABK juga dididik untuk membuat produk atau karya yang bernilai estetis dan berdaya jual sehingga dapat membantu mereka kelak hidup mandiri.


  • Share