Risiko Global

  • Share

SAYA dan Anda ialah bagian dari sekitar 7,8 miliar penduduk yang menghuni planet ini. Secara statistik, kita hanyalah sepersekian persen dari jumlah populasi Bumi. Di tengah kesibukan mencari nafkah, merawat dan mendidik anak, serta berselancar dan bergosip di dunia maya, kita mungkin tidak sempat mempertanyakan atau merenungkan (minimal dalam hati), apa peran kita di tengah perkampungan global ini, beserta segala risiko yang bakal dihadapi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, sialnya, suka atau tidak suka, kita tidak bisa terhindar dari segala konsekuensinya.

Pandemi covid-19 yang telah memasuki tahun ketiga ialah tantangan nyata yang dihadapi dunia saat ini serta mungkin krisis terberat setelah dua perang yang pernah berkecamuk dan meluluhlantakkan kehidupan di planet ini. Wabah tersebut setidaknya telah mencabut 5,8 juta nyawa penduduk dunia, termasuk mungkin sanak-saudara atau orang-orang terdekat kita lainnya. Tidak cuma itu, virus tersebut juga menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan, menggerus relasi sosial, serta menggerogoti kesehatan mental. Kita pun mungkin sepakat saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja, bahkan mungkin perlu diruwat.

Dalam laporan rutin mengenai risiko global (World Risk Report) 2022 yang diterbitkan pertengahan Januari lalu, Word Economic Forum menyebut setelah dua tahun pandemi berjalan, di 52 negara termiskin yang merupakan rumah bagi 20% penduduk dunia, hanya 6% dari populasinya yang telah divaksin. Distribusi vaksin yang tidak merata ini, kata mereka, membuat pemulihan ekonomi global hingga kini tertatih-tatih. Dalam laporannya, organisasi nirlaba yang kerap mempertemukan para pemimpin bisnis, pakar, serta para elite politik dunia di Davos, Swiss, itu juga memprediksi pada 2024 PDB negara-negara berkembang bakal merosot hingga 5,5%, sedangkan perekonomian negara maju akan tumbuh 0,9%. Hal itu, menurut mereka, bakal semakin memperlebar kesenjangan global yang berpotensi meningkatkan ketegangan, baik di dalam maupun batas wilayah.

Paparan dalam laporan tersebut bukan sekadar retorika tanpa disertai data. Sebagian dari kita bahkan telah merasakan dampaknya. Sialnya, itu bukan satu-satunya masalah yang kita hadapi. Masih ada sejumlah risiko yang tidak kalah menakutkan, seperti dampak perubahan iklim, masalah keamanan siber, serta konfrontasi geoekonomi. Tidak mengherankan bila ditanyakan tentang keadaan dunia dalam dua tahun ke depan, dari seluruh responden yang disurvei dalam laporan tersebut, hanya 16% memandang positif dan optimistis serta hanya 11% yang percaya pemulihan global bisa berlangsung cepat.

Jika berkaca pada laporan itu, masa depan dunia sepertinya memang tampak suram. Namun, kita sebagai salah satu penghuninya, juga tidak bisa bersikap bodo amat. Minimal ikut berpartisipasi menekan laju pandemi yang terjadi saat ini. Perekonomian dalam negeri yang mulai bergeliat, jangan sampai terjerembap hanya lantaran bangsal rumah sakit kembali membeludak. Makanya, jangan egois keluyuran, apalagi jalan-jalan ke luar negeri yang ujung-ujungnya malah ‘mengimpor’ virus. Ingat bagaimana sebagian dari kita megap-megap dan pontang-panting kesulitan mencari tabung oksigen ketika diamuk varian delta pertengahan tahun lalu.

Makhluk kecil itu (virus dengan segala variannya) seolah kembali mengingatkan kita tentang hakikat kemanusiaan bahwa hidup tidak bisa semau gue, apalagi hanya memikirkan diri sendiri. Manusia harus tepo seliro. Tidak hanya terhadap sesamanya, tapi juga seluruh makhluk penghuni planet ini. Bumi perlu dirawat, bukan sekadar dieksploitasi. Sebagai khalifah, tugas manusia ialah menjaga keberlangsungannya, jangan cuma sibuk menumpuk harta dan bikin anak. Mbok ya sekali-kali mikir demi masa depan anak-cucu kita nanti.


  • Share