Tercebur ke Sinologi

  • Share

TUMBUH dewasa pada masa dunia internasional mengantisipasi melejitnya kekuatan ekonomi Tiongkok turut memengaruhi pertimbangan Johanes Herlijanto yang melongok kesempatan yang bisa didapatkan dari momentum tersebut.

Ketika itu, pada medio 1980-an akhir hingga 1990-an, banyak anak muda yang mulai tertarik mempelajari bahasa Mandarin. Sebagai penyuka sastra, Johannes kala itu dihadapkan pada dua pilihan, antara mengambil kuliah jurusan sastra Inggris atau sastra China (Tiongkok).

“Saya suka sastra, tapi kayaknya yang ambil sastra Inggris itu banyak makanya pilih sastra China saja biar lebih spesifik,” tutur Johanes kepada Media Indonesia di kawasan Semanggi, Jakarta, Kamis (27/1).

Dalam perkiraan Johanes mulanya, selepas menyandang gelar sarjana sinologi, ia akan merintis karier menjadi diplomat atau bekerja di firma-firma Tiongkok yang mulai merebak.

Namun, perjalanan hidupnya ternyata mengarahkan ia menjadi akademisi. “Pikirnya kalau sudah lulus, melamar di departemen luar negeri, atau bekerja di perusahaan Tiongkok, tapi kemudian malah ikut membantu di Program Studi China sebagai asisten pengajar. Jadi, sebenarnya, ya, awalnya kecebur,” lanjutnya.

Setelah lulus program sarjana di Universitas Indonesia pada 1996, ia menempuh program magister di universitas serupa, sebelum mendapat gelar doktor (PhD) di bidang antropologi dari Macquarie University, Australia, dan Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda.

Johanes berfokus pada studi sinologi dan lebih luasnya pada sosiologi yang mengamati hubungan internasional antara Indonesia dan Tiongkok. Beberapa studinya antara lain menyoal persepsi elite Indonesia terhadap komunitas Tionghoa pada 2016 yang melihat masih adanya stereotip warga Indonesia terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia. Pada 2017, ia juga menyusun survei nasional tentang persepsi publik terhadap komunitas Tionghoa Indonesia. (Jek/M-2)


  • Share