Maria Lanneke Alexander : Penguat para Orangtua

  • Share

KEHILANGAN anaknya yang menderita cerebral palsy di usia 20 tahun justru menjadi babak baru bagi Maria Lanneke Alexander untuk terjun di komunitas orangtua dari anak berkebutuhan khusus (ABK). “Saya bergabung setelah anak saya meninggal, sembilan tahun lalu anak saya meninggal di usia 20 tahun. Semua dokter mengatakan jika anak saya tidak akan berumur panjang. Dia lahir dan kami tahu dia cerebral palsy, kami percaya bahwa ini cinta kami dan Tuhan menitipkan kepada kami, jadi kami terima,” ungkap perempuan yang akrab disapa Lanneke itu di Kick Andy episode Cinta yang Menyembuhkan.

Perempuan kelahiran Manado, 13 Maret 1965, itu mengaku pada awalnya sempat ingin menolak ketika diajak bergabung ke komunitas Lovely Hands. Komunitas yang didirikan sepasang suami istri dan seorang pastor paroki ini bergerak membantu para orangtua keluarga sederhana dari ABK.

Namun, Lanneke kemudian sadar bahwa kondisi sang anak (Anthony) yang tidak pernah sakit ginjal meski dokter memperkirakan bakal cuci darah sejak kecil, merupakan karunia Tuhan. Sebab itu, sebagai rasa syukur, ia pun akhirnya mau bergabung ke Lovely Hands meski sang anak telah berpulang.

Selain itu, Lanneke sadar jika cinta dan ketabahan orangtua sangat penting bagi kesembuhan anak. “Sangat penting untuk keluarga menyatu dan memberikan cinta satu sama lain karena cinta keluarga akan menyembuhkan anak. Inilah yang selalu dirinya bawa ke dalam pelayanan,” kata Lanneke yang kemudian menjadi koordinator di komunitas yang beralamat di Gedung Dominikus Savio Lt 3, Sunter Jaya, Jakarta, itu.

Saat ini ada 77 difabel yang dibina dari total 134 difabel yang telah dilayani di komunitas yang telah berdiri selama 10 tahun itu. Selain terapi dan kegiatan-kegiatan edukasi, peserta difabel mengikuti kegiatan outing bersama orangtua.

Di dalam komunitas tersebut, anak-anak juga dilatih untuk membuat telur asin, membuat rosario, dan kerajinan lainnya. Hingga kini, mereka telah menjual 600 buah kerajinan tangan. Para orangtua juga diberikan pelatihan kerajinan tangan. “Kami mengajarkan orangtua, seperti merajut syal, topi, dan lainnya. Jadi, selama mereka menunggu anak-anak di terapi, mereka membuat rajutan di ruang tunggu. Sekarang orangtua sudah menjual hasil mereka,” ujarnya.

“Kami tidak mau hanya mereka membuka tangan dan meminta-minta, kami selalu mengajarkan mereka bahwa walaupun kalian punya anak berkebutuhan khusus, jangan pernah minta dikasihani orang lain, kalian harus berjuang,” lanjutnya. Dalam acara malam ini, beberapa karya yang memiliki nilai estetis dan berdaya jual dari para orangtua ABK dan telur asin karya anak difabel dari komunitas ini juga ditampilkan di Kick Andy.


  • Share