Panggilan Hati untuk Anak Difabel

  • Share

BEREMPATI terhadap penderita difabel sudah menjadi bagian hidup Arnoldus Dominikus Duli Uran sejak kecil. Tiga dari delapan saudara kandungnya terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK).

Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, pria kelahiran Lewoawan, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu pun terbiasa ikut mengurus saudara-saudaranya yang difabel tersebut. Hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Cinta yang Menyembuhkan yang tayang malam ini di Metro TV, Arnold menuturkan jika salah satu saudaranya terlahir tanpa langit-langit mulut dan mengalami bibir sumbing.

Adiknya yang nomor empat terlahir tanpa ubun-ubun, sementara saudaranya yang ke-8 lumpuh dan hanya bertahan hingga usia 2 tahun. Di sisi lain, meski mengalami ujian yang tidak ringan, orangtua mereka tetap menolong orang lain yang kesusahan.

“Bapak dan mama juga tukang nampung orang yang susah di jalan. Mereka yang jalan ke mana, pergi dagang dan lain sebagainya lewati kampung kalau susah dan kelaparan,” kenang pria berusia 64 tahun yang kerap juga disapa sebagai Opa Arnold itu.

Sikap sosial Arnold makin terasah selama merantau sekolah di Seminari Hokeng Sandominggo, Larantuka, pada 1978-1981 hingga kemudian menjadi bruder selama 1,6 tahun di Yogyakarta.

Kembali ke NTT, Arnold membulatkan tekad untuk membantu anak-anak difabel dengan lebih nyata. Terlebih ia melihat jumlah anak difabel di daerah itu cukup banyak dan bahkan tidak sedikit yang telantar karena kondisi ekonomi keluarga yang minim.

 

Pelatihan

Pria yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Sikka itu mendirikan Panti Asuhan Adimister Duli Onan yang terletak di Desa Mudakaputu, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, pada 1998. Nama Adimister merupakan kependekan dari Anak Difabel Miskin Telantar. Panti asuhan itu kemudian dikukuhkan menjadi Yayasan Panca Duo pada 2010.

Yayasan Panca Duo Panti Asuhan Adimister Duli Onan memiliki dua unit pelayanan terhadap kelompok rentan, yaitu panti asuhan untuk tempat bermukim dan sekolah luar biasa (SLB) yang memberikan pendidikan layak bagi anak difabel.

Pendirian panti asuhan dan SLB itu dibiayainya sendiri meski harus menjual mobil dan bengkel mobilnya. Untuk operasional kedua lembaga itu Arnold juga tidak menarik bayaran. Pada awalnya ia membiayai operasional sendiri, kemudian banyak mendapat bantuan masyarakat. “Semuanya Tuhan Allah yang bayar, kalau kita gratis,” ujarnya.

Hingga saat ini, di panti asuhannya telah ada 240 orang difabel, termasuk 53 orang yang saat ini tinggal di panti asuhan. ABK yang dirawat di sana sebagian besar didominasi difabel dari tingkat sedang hingga berat yang berasal dari wilayah NTT.

“Anak difabel di Kabupaten Flores Timur sampai dengan di tahun 2016 sebanyak 2.853 difabel lalu di tahun 2021 sebanyak 1.762. Jumlahnya menurun karena kita di Kabupaten Flores Timur sudah ada pemahaman dengan melakukan advokasi dan sosialisasi ke pemerintah dan masyarakat,” paparnya.

Panti asuhan itu kemudian juga menjadi bukti kegotongroyongan lintas agama karena para remaja masjid juga kerap memberikan bantuan untuk operasional. Tidak hanya dirawat, para penghuni panti asuhan juga mendapat pelatihan kerajinan tangan dan kuliner sebagai bekal hidup di masa depan.

Tidak sekadar menjalankan panti asuhan dan SLB, Arnold yang menjabat Ketua Forum Komunikasi dan Keluarga dengan anak difabel se-Kabupaten Flores Timur, juga terus mendorong kebijakan yang peduli difabel.

Kini, lulusan panti asuhan tersebut sudah ada yang berkuliah dan bahkan bekerja. Salah satunya telah menjadi karyawan di sebuah perusahaan elektronik di Cimahi, Jawa Barat. Ada anak panti difabel itu yang berhasil menjadi kepala desa.

Arnold membuktikan jika anak-anak difabel dapat produktif dan bahkan memberi sumbangan besar bagi masyarakat jika diberi dukungan. Ia berharap kepedulian masyarakat dan negara terhadap anak difabel semakin besar.


  • Share